Sepucuk Surat Teruntuk Ayahanda Tercinta, TD. Pardede

 

Ayah,

Tak terasa waktu terus berjalan dan kehidupan ini tak pernah berhenti. Telah dua puluh tahun dirimu meninggalkanku dan semua dari dunia yang fana ini untuk duduk bersanding dengan Dia di alam baka. Sedih sudah tiada lagi ada di dalam diri, yang tertinggal adalah cinta dan kerinduan yang terus menyelimuti diri.

Sebelumnya, tak pernah aku mengenal apa dan siapa dirimu. Barangkali dulu pun yang tampak bagi dirimu adalah aku yang masih berada di dalam ayunan. Biarpun saat sudah mengenakan gaun malam untuk pergi berpesta di sepanjang malam yang panjang. Aku hanyalah anak-anak kecil yang duduk manis dan duduk menurut walau hari terus berganti.

Kita yang dulu terpisah oleh jarak dan waktu, seringkali membuat diri ini menjadi merasa jauh darimu. Kupu-kupu di dalam sangkar emas tidak lagi disuapi susu dan madu. Aku kau buat melakukan semua itu untuk pergi melihat dunia yang bukan hanya dari balik jendela, Merasakan teriknya matahari dan ganasnya sengatan salju tebal, sementara anak yang lain terus dibuai dan dimanja dalam pelukan seorang ayah. Ada kegelisahan yang menderu dan banyak tanya di dalam hati, mengapa dirimu melakukan semua ini.

Tidak mudah untuk mengatakannya karena mungkin kita pun tak sama. Meskipun diutarakan apa yang sebenarnya diinginkan dan betapa besarnya keinginan untuk mengutarakannya. Harus kuakui bahwa aku sangat mencintaimu dan sangat membutuhkan cintamu.

Alangkah terkejutnya diri ketika mereka bercerita dan menceritakan apa dan siapa dirimu. Apa yang sebenarnya telah dirimu lakukan dan berikan. Tuhan, aku sungguh tak pernah menduga dan mengiranya. Maafkan diriku, ayah!

Kini, aku menjadi mengerti. Ternyata dirimu tak pernah meninggalkanku bahkan untuk sedetik pun. Jarak memang memisahkan kita tetapi hati kita yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, membuat jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Dirimu ada di dalam hatiku dan aku pun yakin bahwa selalu ada di dalam hatimu.

Jika pun kita terpisah, itu bukan karena dirimu tidak menyayangi ataupun tidak mencintaiku. Segala sesuatunya memiliki porsi dan tempatnya masing-masing. Prioritas adalah penting dan bukan hanya untuk sesaat semata. Apa yang telah dirimu lakukan dan berikan akan senantiasa abadi bagi semua yang mampu merasakannya.

Tak bisa aku bayangkan bagaimana dirimu menjalani kehidupan dan membuat kehidupan itu dapat terus berlanjut. Dirimu yang tadinya hanya seorang pengumpul karet di hutan, pada akhirnya bisa mendirikan berbagai usaha besar dan meninggalkan banyak sekali pembelajaran yang penuh arti dan makna. Bukan materi yang terpenting, ayah! Buah dari pemikiran dan rasamulah yang terutama.

Sungguh tidak mudah untuk dapat menjadi seperti dirimu, ayah! Menjaring mimpi dan mampu mewujudkannya menjadi nyata. Lalu, dirimu pula memoleskan semua itu menjadi warna-warni pelangi yang sangat indah sebagai perwujudan dari rona cinta dan kasih sayangmu kepada kami semua.  Sehingga apa yang dirimu tinggalkan itu bisa menjadi jejak tapak dan langkah yang menghantarkan aku dan kami semua untuk bisa terus memiliki kehidupan dan menjalaninya.

Bebas dan terbang bebas adalah pilihan. Melihat dan merasakan dunia yang sesungguhnya. Mencoba segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Meskipun tidak ada satupun yang membuat terpesona karena memang tidak pernah juga diharapkan ataupun diinginkan sebelumnya.

Demikian juga dengan kemewahan dan ketenaran, keberhasilan dan kesuksesan. Itu semua bukanlah yang menjadi tujuan ataupun mimpi. Mereka datang tak pernah diduga sebelumnya, tak pernah juga diundang untuk datang menghampiri. Meskipun seluruh dunia berpikir dan mengira bahwa itulah yang memang diinginkan, namun dirimu telah mengajarkan bahwa semua itu hanyalah sebuah ilusi belaka. Diperlukan banyak sekali usaha, kerja keras, dan dedikasi yang tinggi untuk dapat meraihnya. Ketulusan di dalam memberi dan memberikan banyak.

Semua itu bukan sebagai akhir dari pertanyaan dan juga bukan akhir sebuah jawaban. Semua yang ada di dalam dirimu adalah Dia dan cintamu adalah untuk semua. Dirimu sangat luar biasa.

Sekarang tak ada lagi yang dapat aku lakukan untuk membalas segala cinta dan kasih sayangmu itu. Yang bisa kulakukan adalah melanjutkan apa yang telah dirimu berikan dan membagikannya kembali kepada semua yang dirimu cintai. Kuingin mereka pun mampu untuk menjadi dirimu dan bahkan lebih darimu. Buku ini aku persembahkan untukmu ayah, sebagai ungkapan rasa cinta dan kerinduan yang teramat mendalam pada dirimu.

Seandainya saat ini, kita dapat bertatap muka denganmu, barangkali tak ada lagi kata yang mampu untuk diucapkan. Yang aku inginkan hanyalah melihat senyum terindahmu dengan tatapan matamu yang teduh dan penuh cinta, seperti saat kita menari berdua di ruangan itu. Semua itulah yang mampu menguatkan kami untuk dapat melangkah maju terus ke depan.

Ayah, terima kasih! Dirimu adalah inspirasiku. Aku sangat mencintaimu.

Berbahagialah dirimu bersama dengan Dia di sana, ayah!

Indri Pardede Aria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s